Workshop selama tiga hari membekali dosen dan peneliti dengan strategi menentukan posisi artikel, memanfaatkan kecerdasan buatan secara etis, serta membangun kolaborasi publikasi internasional.

SERANG – Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer atau APTIKOM bersama Universitas Bina Bangsa menggelar Workshop Penulisan Karya Ilmiah Bereputasi Internasional pada 27 hingga 29 Juli 2026.
Kegiatan berlangsung secara luring di Auditorium Gedung D Lantai 6, Kampus 1 Universitas Bina Bangsa, Kota Serang. Workshop tersebut menjadi ruang penguatan kapasitas bagi dosen dan peneliti yang ingin meningkatkan mutu artikel serta memperluas peluang publikasi pada jurnal bereputasi internasional.
Ketua APTIKOM Banten, Prof. Dr. Ir. Henderi, M.Kom., IPU, membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa publikasi ilmiah tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga tanggung jawab untuk menyampaikan hasil penelitian kepada masyarakat ilmiah secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Di balik sebuah artikel ilmiah terdapat proses panjang, mulai dari menemukan masalah, mengumpulkan data, melakukan analisis, hingga mempertanggungjawabkan hasilnya. Workshop ini diharapkan membuat para dosen dan peneliti semakin percaya diri membawa hasil riset mereka ke tingkat internasional,” ujar Henderi.
Menurutnya, peningkatan jumlah publikasi perlu berjalan seiring dengan peningkatan kualitas penelitian. Peneliti harus menjaga kejujuran akademik, memahami substansi tulisannya, dan memastikan bahwa artikel yang dihasilkan benar-benar memberikan kontribusi terhadap bidang ilmu yang dikaji.
Rektor Universitas Bina Bangsa, Prof. Dr. Bambang Dwi Suseno, S.E., M.M., hadir sebagai keynote speaker. Ia menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk membangun lingkungan akademik yang produktif, kolaboratif, dan berorientasi pada pemecahan masalah nyata.
Menurut Bambang, penelitian tidak boleh berhenti sebagai laporan yang tersimpan di ruang kerja atau perpustakaan. Hasil penelitian perlu dipublikasikan agar dapat dibaca, diuji, dikritisi, dan dikembangkan oleh peneliti lain.
“Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan penelitian. Penelitian harus hadir sebagai pengetahuan yang dapat dibaca dan memberi manfaat. Kemampuan menulis artikel yang kuat menjadi bagian penting dalam membangun budaya akademik yang sehat,” kata Bambang.
Ia juga menyoroti pentingnya keberanian akademisi untuk memasuki ruang publikasi internasional. Proses tersebut memang membutuhkan ketekunan, terutama ketika penulis harus menghadapi penolakan, revisi, dan berbagai masukan dari editor maupun reviewer.
“Penolakan bukan akhir dari perjalanan sebuah artikel. Peneliti perlu melihatnya sebagai bagian dari proses belajar. Masukan reviewer dapat menjadi jalan untuk memperkuat metode, analisis, dan kontribusi penelitian,” tuturnya.
Menentukan Posisi Artikel Sejak Awal
Pada hari pertama, peserta memperoleh materi mengenai strategi menempatkan atau memosisikan artikel agar siap diajukan ke jurnal terindeks Scopus.
Materi menekankan bahwa sebuah artikel harus menunjukkan topik yang dikaji, masalah yang ingin diselesaikan, hasil penelitian terdahulu, kesenjangan penelitian, unsur kebaruan, serta pihak yang memperoleh manfaat dari temuan penelitian.
Posisi artikel yang kuat membantu editor dan reviewer memahami alasan sebuah penelitian layak diterbitkan. Sebaliknya, artikel dapat ditolak meskipun memiliki data yang baik apabila topiknya terlalu umum, kesenjangan penelitiannya tidak jelas, kebaruannya lemah, atau tidak sesuai dengan ruang lingkup jurnal.
Prof. Deshinta Arrova Dewi, Ph.D., menjelaskan bahwa penulis harus mampu memperlihatkan hubungan yang konsisten antara judul, masalah penelitian, metode, hasil, kebaruan, dan kontribusi.
“Artikel yang baik harus memiliki posisi yang jelas. Penulis perlu menjawab apa masalahnya, apa yang belum dijelaskan penelitian sebelumnya, dan apa hal baru yang ditawarkan. Editor harus dapat melihat nilai penelitian itu sejak membaca judul dan abstrak,” jelas Deshinta.
Menurutnya, judul artikel perlu dibuat jelas, spesifik, fokus, mudah ditemukan melalui mesin pencarian akademik, serta selaras dengan tujuan dan metode penelitian.
Abstrak juga harus memuat unsur latar belakang, masalah, metode, hasil utama, kontribusi, dan kebaruan. Apabila judul menyebut pengembangan sebuah model atau kerangka, abstrak dan isi artikel harus menjelaskan model tersebut secara nyata.
“Jangan membuat judul yang menjanjikan terlalu banyak, tetapi tidak dapat dibuktikan di dalam artikel. Konsistensi akan membantu reviewer memahami alur berpikir penulis,” katanya.
Hari kedua membahas pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence dalam kegiatan penelitian. Peserta dikenalkan dengan berbagai perangkat yang dapat membantu pencarian literatur, pemetaan artikel, pemeriksaan tata bahasa, parafrasa, pengelolaan referensi, pemeriksaan kemiripan, hingga pencarian jurnal yang sesuai.
Materi menegaskan bahwa kecerdasan buatan hanya berfungsi sebagai alat bantu. Peneliti tetap menjadi pihak yang menentukan masalah, memeriksa sumber, melakukan analisis, dan bertanggung jawab atas isi tulisan.
Penggunaan AI harus dilakukan secara transparan dan berintegritas. Konten yang dihasilkan AI tidak boleh langsung ditempatkan sebagai substansi utama karya ilmiah tanpa pemeriksaan, pengembangan, dan analisis kritis dari penulis.
Tri Basuki Kurniawan, Ph.D., mengingatkan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan tanggung jawab intelektual seorang peneliti.
“AI bukan penelitinya. Peneliti tetap manusia. AI dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi manusia harus memahami apa yang ditulis, memeriksa kebenaran informasi, dan mampu menjelaskan setiap bagian artikelnya,” ujar Tri Basuki.
Ia juga menjelaskan pentingnya menyusun perintah atau prompt secara jelas. Prompt yang efektif perlu memiliki konteks, batasan, format keluaran, dan tujuan yang spesifik.
“Jangan menerima jawaban AI tanpa proses verifikasi. Peneliti perlu memeriksa kembali referensi, data, konsep, dan kesesuaian hasilnya dengan kebutuhan penelitian. Kecepatan tidak boleh mengurangi ketelitian,” katanya.
Pada hari ketiga, peserta memperoleh materi mengenai peluang publikasi dan kolaborasi bersama INTI International University Malaysia.
Materi mencakup mekanisme menjadi research fellow, penulisan bersama peneliti internasional, penggunaan kata kunci yang berkaitan dengan Sustainable Development Goals, serta penguatan jejaring sitasi yang tetap mengikuti etika akademik.
Peserta juga mendapat penjelasan mengenai tanggung jawab corresponding author. Penulis korespondensi bertugas mengelola pengiriman manuskrip, berkomunikasi dengan pengelola jurnal, mengoordinasikan revisi, memastikan persetujuan seluruh penulis, dan menjaga kepatuhan terhadap etika publikasi.
Tanggung jawab tersebut tetap berlanjut setelah artikel diterbitkan. Corresponding author harus siap menangani koreksi, sengketa kepenulisan, pertanyaan terkait data, serta persoalan etika apabila muncul di kemudian hari.
Deshinta menilai kolaborasi internasional harus dibangun melalui komunikasi yang aktif dan pembagian tanggung jawab yang jelas.
“Kolaborasi bukan sekadar menambahkan nama penulis dari institusi lain. Setiap penulis harus memberikan kontribusi nyata. Komunikasi, etika kepenulisan, dan tanggung jawab terhadap isi artikel harus dijaga sejak awal,” tuturnya.
Tri Basuki menambahkan bahwa corresponding author memegang peran penting sebagai penghubung antara tim peneliti dan jurnal.

“Penulis korespondensi tidak hanya menekan tombol submit. Ia mewakili seluruh tim. Karena itu, ia harus responsif, transparan, memahami isi penelitian, dan mampu menyelesaikan persoalan yang muncul selama maupun setelah proses publikasi,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, APTIKOM Banten dan Universitas Bina Bangsa berupaya mendorong lahirnya artikel ilmiah yang lebih fokus, berintegritas, serta memiliki kontribusi yang jelas.
Workshop tersebut juga memperlihatkan bahwa publikasi internasional bukan proses yang dapat diselesaikan secara instan. Peneliti perlu membangun kebiasaan membaca, menulis, berdiskusi, memperbaiki naskah, dan menerima kritik secara terbuka.
Bagi para peserta, tiga hari pelatihan ini bukan hanya tentang mengejar jurnal terindeks. Kegiatan tersebut menjadi langkah untuk menumbuhkan keberanian menulis, memperkuat jejaring akademik, dan memastikan bahwa hasil penelitian dapat menjangkau pembaca yang lebih luas.

