SERANG — Pengelolaan sampah di Desa Tanjungsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, mendapat alternatif baru. Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 53 Universitas Bina Bangsa (UNIBA) memperkenalkan rocket stove sebagai fasilitas pengelolaan sampah yang sebelumnya belum tersedia di desa tersebut.
Rocket stove bersama tempat pengumpulan sampah yang dibuat mahasiswa KKM 53 resmi diperkenalkan dan diresmikan pada 12 Agustus 2026, dengan dihadiri Kepala Desa Tanjungsari Zaenal Arifin dan Sekretaris Desa.
Yang menarik, inovasi ini tidak hanya mendapat apresiasi sebagai program kerja mahasiswa. Pemerintah Desa Tanjungsari membuka peluang untuk mengembangkan fasilitas serupa di tingkat RT apabila keberadaannya terbukti sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Kami menyambut baik program yang dibuat KKM 53 ini. Ini merupakan inovasi baru bagi Desa Tanjungsari, khususnya dalam pengelolaan sampah. Kalau program ini memang tepat dan memberikan manfaat bagi masyarakat, insyaallah ke depannya bisa kita kembangkan, bahkan kalau memungkinkan di setiap RT,” ujar Zaenal Arifin.
Berawal dari Masalah yang Ditemui di Lapangan
Gagasan membuat rocket stove muncul setelah mahasiswa KKM 53 melihat langsung kebiasaan pengelolaan sampah di lingkungan masyarakat.
Sebagian warga masih memilih membakar sampah rumah tangga secara terbuka di halaman rumah atau lahan sekitar. Cara tersebut memang menjadi salah satu pilihan praktis untuk mengurangi sampah, tetapi pembakaran terbuka dapat menghasilkan asap dan mengganggu lingkungan sekitar.
Kondisi tersebut kemudian mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memberikan edukasi, tetapi mencoba menghadirkan contoh fasilitas yang bisa langsung dilihat dan dimanfaatkan masyarakat.
Wakil Ketua KKM 53 UNIBA, Hafidz Hidayatullah, mengatakan rocket stove dipilih sebagai salah satu bentuk inovasi sederhana yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat.
“Sebelumnya di Desa Tanjungsari belum ada rocket stove seperti ini. Kami melihat masih ada masyarakat yang membakar sampah secara terbuka, sehingga kami mencoba menghadirkan inovasi yang sederhana dan bisa menjadi contoh untuk pengelolaan sampah di desa,” kata Hafidz.
Menurutnya, mahasiswa ingin agar program tersebut tidak berhenti pada pembangunan sebuah alat. Karena itu, di samping rocket stove turut dibuat tempat pengumpulan sampah untuk warga.
“Kami tidak hanya membuat rocket stove, tetapi di sampingnya juga kami buat tempat pengumpulan sampah untuk warga. Harapannya, masyarakat bisa mulai membiasakan diri mengumpulkan dan mengelola sampah dengan lebih teratur,” ujarnya.
Dua Hari, Satu Inovasi Baru
Pembangunan rocket stove dilakukan selama dua hari, 5–6 Agustus 2026. Mahasiswa KKM 53 terlibat langsung dalam proses pengerjaan, mulai dari menyiapkan bahan, merancang bagian alat, hingga menyelesaikan fasilitas yang kemudian digunakan sebagai lokasi percontohan.
Bagi mahasiswa, waktu dua hari tersebut bukan sekadar proses membuat bangunan fisik. Ada tujuan yang lebih besar, yakni meninggalkan fasilitas yang dapat dimanfaatkan masyarakat setelah program KKM berakhir.
Rocket stove dirancang sebagai tempat pembakaran dengan ruang pembakaran yang lebih terarah dibandingkan pembakaran sampah secara terbuka. Sementara itu, tempat pengumpulan sampah di sampingnya menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan baru agar sampah tidak langsung dibakar sembarangan.
Dengan konsep tersebut, masyarakat diharapkan mulai melihat pengelolaan sampah sebagai sebuah proses, bukan sekadar bagaimana sampah cepat hilang dari halaman rumah.
Dari Program Mahasiswa, Berpeluang Jadi Program Desa
Peresmian pada 12 Agustus 2026 menjadi titik penting bagi keberlanjutan program. Pasalnya, Pemerintah Desa Tanjungsari tidak menutup kemungkinan untuk mengadopsi konsep tersebut jika hasil penerapannya sesuai dengan kebutuhan warga.
Bagi KKM 53, respons tersebut menjadi kabar positif karena salah satu tantangan program mahasiswa adalah memastikan inovasi yang dibuat tidak berhenti ketika masa pengabdian selesai.
Hafidz berharap masyarakat dapat ikut menjaga dan memanfaatkan fasilitas tersebut.
“Ukuran keberhasilan program ini bukan hanya alatnya sudah berdiri. Yang paling penting adalah masyarakat mau menggunakan, menjaga, dan kalau bisa ikut mengembangkan. Jadi, setelah kami selesai KKM, program ini tetap bisa berjalan,” tutur Hafidz.
Sementara itu, Zaenal menekankan bahwa keberlanjutan fasilitas membutuhkan dukungan masyarakat.
“Yang paling penting bukan hanya pembangunannya, tetapi bagaimana masyarakat bisa menggunakan dan menjaga fasilitas ini. Kami berharap masyarakat ikut mendukung dan memanfaatkan inovasi yang sudah dibuat,” katanya.
Jika penerapan di lokasi percontohan berjalan baik, pembangunan rocket stove di setiap RT bukan lagi sekadar gagasan. Program tersebut berpotensi menjadi bagian dari upaya Pemerintah Desa Tanjungsari dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih dekat dengan masyarakat.
Bukan Sekadar Meninggalkan Bangunan
Bagi KKM 53 UNIBA, keberadaan rocket stove di Desa Tanjungsari bukan sekadar meninggalkan sebuah fasilitas sebelum mahasiswa menyelesaikan masa KKM.
Lebih dari itu, program ini menjadi upaya untuk meninggalkan gagasan yang bisa dilanjutkan.

Mahasiswa membawa inovasi, pemerintah desa memberikan dukungan, sementara masyarakat menjadi pihak yang menentukan apakah fasilitas tersebut dapat benar-benar memberikan manfaat.
Dari sebuah permasalahan sederhana di lingkungan warga, lahir sebuah inovasi yang kini memiliki peluang untuk dikembangkan lebih luas.
Rocket stove KKM 53 UNIBA mungkin baru menjadi satu titik di Desa Tanjungsari. Namun, jika dimanfaatkan dan dikembangkan bersama, satu titik tersebut dapat menjadi awal dari perubahan cara masyarakat mengelola sampah.

